Friday, March 14, 2008

Gesper dalam Air yang Menggenang


Air memang sering kali memberikan kepada kita sesuatu yang filosofis. Seperti yang sering kita dengar... "hiduplah mengalir seperti air", atau "air diam menghanyutkan", dan atau apalah yang lainnya.

Tentang "air diam menghanyutkan", sepertinya saya baru saja mengalami kejadian yang cukup menarik dan mungkin saja ada relevansinya dengan ungkapan itu. Ketika air itu diam lalu ternyata mampu menghanyutkan adalah sebuah ungkapan yang cukup ironis. Karena bagaimana mungkin air yang diam itu bisa menghanyutkan sesuatu yang ada di atasnya atau di dalamnya. Setelah saya pikir-pikir kembali, makna menghanyutkan ini sepertinya lebih tepat jika kita menggantinya dengan kata terlena, terbuai, atau yang paling ekstrem mengakibatkan rasa malas yang luar biasa.

Ambil contoh, ketika kita sedang berduaan dengan sang idaman hati di atas sebuah perahu kecil di sebuah danau yang airnya sangat tenang. Kita terhanyut... Hanyut dalam buaian angin semilir yang sejuk, hanyut dalam suara kecipak kayu perahu yang beradu dengan air danau, hanyut dalam nuansa asmara yang sedang dibangun, dan mungkin saja ketika "teguh kecil" terkejut lalu bangun kita hanyut dalam aroma masyuk yang dihidangkan oleh alunan air tenang itu. Mmm... kalo ini mungkin bukan sekedar hanyut tetapi sudah "tenggelam".

Beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan seorang pemuda yang "menghanyutkan" dirinya dalam sebuah kondisi yang membuat tangannya selalu di bawah dan menengadah terhadap belas kasihan orang lain. Pemuda itu mungkin berusia belum genap 20 tahun, meskipun badannya kurus kerempeng tetapi raut mukanya masih sangat bertenaga. Saya berani jamin mata dan hatinya masih membara akan sebuah perjuangan hidup. Tetapi badanya menampiknya, tangannya menolak keras, dan kakinya enggan.

Dengan bertelanjang dada, pemuda itu menghampiri mobil satu persatu meminta belas kasihan. Bercelana jeans warna hitam dilengkapi gesper yang cukup besar, kotak, dan berwarna putih perak.

Saya perhatikan segala gerak-geriknya. Dengan posisi tangan meminta dia mengetuk rasa iba setiap pengendara mobil. Dengan tubuh yang dibuat seolah gontai, dia memelas uang recehan. Dengan mata dibuat sayu, dia menghampiri saya. Setelah saya perhatikan lebih seksama lagi, saya tertegun dengan gespernya. Begitu bersih dan mengkilap meski mungkin bukan asli. Tetapi cukup bagus penampilan gesper itu. Saya lambaikan tangan, sebagai tanda tidak ada uang kecil.

Setelah diam sejenak, saya pun menjalankan mobil karena lampu merah sudah menjadi hijau. Lalu saya berpikir, kenapa tadi tidak saya beri pemuda itu uang ya... atau mungkin saya bisa memberinya uang yang lebih sedikit lagi. Karena mungkin saja jika hal itu terjadi, hari ini saya bisa memiliki gesper baru yang menggantikan gesper saya yang sudah bertahun-tahun ini, yang kondisinya pun sudah tidak layak pakai.

Sepertinya pemuda itu pun, benar-benar menjadi "air yang diam". Menjadi berlumut, sarang nyamuk DBD, dan bau...

0 komentar: